Otoritas Serbia memproses persemayaman jenazah mantan komandan militer Serbia-Bosnia, Ratko Mladić, pada Senin. Langkah ini tetap direalisasikan meskipun Uni Eropa telah menyampaikan peringatan resmi agar tidak mengizinkan penghormatan publik bagi sosok yang terbukti melakukan kejahatan perang tersebut.
Mladić mengembuskan napas terakhir sewaktu menjalani hukuman penjara seumur hidup. Hukuman tersebut dijatuhkan atas keterlibatannya dalam aksi genosida—kejahatan yang dicatat sebagai kasus genosida pertama di daratan Eropa yang terbukti secara hukum sejak selesainya Perang Dunia II.
Penolakan Tegas Uni Eropa dan Sikap Serbia
Sebelum prosesi persemayaman berlangsung, Uni Eropa secara terbuka mendesak Serbia untuk melarang penyelenggaraan acara penghormatan secara publik. Pihak Uni Eropa menilai pemberian panggung publik bagi terpidana kejahatan perang bertentangan dengan prinsip keadilan kawasan.
Namun, Serbia memilih untuk tidak mengindahkan peringatan diplomatis tersebut dan tetap melanjutkan agenda persemayaman jenazah Mladić pada awal pekan ini. Keputusan tersebut menciptakan gesekan politik yang berpotensi memengaruhi hubungan bilateral antara Serbia dan Uni Eropa.
Rekam Jejak Kejahatan Perang Bosnia
Semasa aktif memimpin pasukan Serbia-Bosnia, Mladić memegang komando militer dalam perang yang mengakibatkan tewasnya sekitar 100.000 warga Muslim Bosnia. Peran sentralnya dalam konflik berdarah tersebut membawanya ke pengadilan internasional hingga akhirnya dijatuhi hukuman kurungan seumur hidup.
Pelaksanaan persemayaman ini menandai akhir perjalanan hidup sang mantan komandan di tengah sorotan internasional, sekaligus mempertegas tantangan hubungan diplomatik Serbia dengan Uni Eropa terkait penanganan warisan konflik masa lalu.

