
Penjualan LCGC Anjlok Terus, Tergerus Lonjakan Mobil Listrik
Oleh: Redaksi Indotrenesia / Ahmad Fauzi
JAKARTA — Pasar Low Cost Green Car (LCGC) yang dahulu mendominasi industri otomotif nasional kini terus tertekan. Sepanjang semester pertama 2026, penjualan retail LCGC tercatat hanya menyentuh 59.017 unit atau terdepresiasi 13 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Fenomena penjualan LCGC anjlok ini makin kentara dari sisi kucuran grosir (wholesale) pabrik ke diler yang merosot hingga 18,4 persen menjadi 55.506 unit dari angka 68.038 unit pada semester I 2025.
Kemunduran ini berdampak langsung pada kontribusi mobil murah terhadap pangsa pasar otomotif nasional. Jika pada 2024 LCGC masih mampu menguasai 21 persen porsi pasar, porsinya tergerus menjadi 15 persen pada 2025, sebelum akhirnya menyusut hingga menyisakan 13 persen saja pada paruh pertama 2026.
Penyusutan Pasokan dan Kinerja Merek Utama di Pasar LCGC
Penurunan volume wholesale LCGC telah berlangsung secara konsisten dalam tiga tahun belakangan. Secara historis, pengiriman mobil hemat energi ini dari pabrik ke diler mencatatkan angka 204.705 unit pada 2023, lalu melandai ke 176.766 unit pada 2024, hingga tersisa 122.686 unit pada 2025.
Tekanan terberat terjadi pada kuartal pertama 2026 dengan kontraksi tajam hingga minus 29,9 persen yang hanya menghasilkan pengiriman 28.831 unit. Kendati memasuki kuartal kedua performa pasar sempat sedikit membaik, posisinya tetap berada di zona merah. Dari sisi manufaktur, total produksi LCGC pada semester I 2026 turut dipangkas 15 persen menjadi 70.845 unit, berbanding 83.367 unit pada periode sama tahun sebelumnya.
Pabrikan Daihatsu mencatatkan penurunan performa paling mencolok. Penjualan LCGC milik produsen asal Jepang ini tergerus 31,4 persen menjadi 18.846 unit, yang berimbas pada menyusutnya pangsa pasar merek tersebut di segmen mobil murah menjadi 31,9 persen.
Meskipun performa pasar tertekan, sejumlah model masih menjadi tumpuan utama. Pada Juli 2026, Daihatsu Sigra memimpin pasar dengan membukukan penjualan 3.092 unit atau menguasai 34 persen pangsa pasar LCGC bulan tersebut. Posisi berikutnya diisi oleh Toyota Calya sebanyak 2.418 unit, Honda Brio sebesar 1.447 unit, Toyota Agya berjumlah 1.174 unit, dan Daihatsu Ayla sebanyak 996 unit.
Tanggapan Pabrikan dan Pesatnya Penetrasi Mobil Listrik
Dinamika pasar yang penuh tantangan ini mendapat tanggapan dari pelaku industri. Marketing Director PT Astra Daihatsu Motor, Rokky Irvayandi, enggan menyebut kondisi segmen mobil murah ini tengah berada dalam fase kritis.
“Pasar LCGC terbelah dua: sebagian model terkoreksi, sebagian lagi relatif bertahan,” ujar Rokky Irvayandi.
Di tengah melemahnya tren mobil murah ramah lingkungan bertransmisi konvensional, segmen kendaraan listrik berbasis baterai (EV) justru menunjukkan performa bertolak belakang. Pada rentang Januari hingga Juli 2026, distribusi mobil listrik dari pabrik menuju diler melesat tinggi mencapai 87.758 unit. Angka ini mencatatkan lonjakan 88,6 persen jika dibandingkan periode sama tahun lalu yang berjumlah 44.404 unit.
Kenaikan signifikan segmen EV terlihat sejak kuartal pertama 2026, di mana distribusi kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) mencapai 33.150 unit, melompat 95,9 persen dari kuartal I 2025 yang baru mengumpulkan 16.926 unit.
Pada Juli 2026, BYD Atto 1 tampil mendominasi pasar mobil listrik nasional dengan angka penjualan bulanan mencapai 4.233 unit. Jaecoo J5 mengekor di urutan kedua lewat capaian 3.155 unit, disusul oleh Geely EX2 yang mengantongi penjualan sebesar 1.592 unit.