Lewati ke konten utama
November 4, 2026Tim Redaksi Berita.Indotrenesia.com
Berita.Indotrenesia
Home›Nasional›Artikel
Nasional

Komnas HAM Ungkap Kasus Online Scam Sasar Anak Muda Terdidik

November 3, 2026 · Tim Redaksi Berita.Indotrenesia.com
Komnas HAM Ungkap Kasus Online Scam Sasar Anak Muda Terdidik

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyampaikan data mengenai tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dengan modus penipuan daring atau online scam yang menunjukkan tren semakin mengkhawatirkan. Kejahatan lintas negara tersebut terpantau mengincar kelompok usia produktif berpendidikan sebagai target utama perbudakan siber.

Sasaran Utama: Lulusan SMA hingga Sarjana

Berdasarkan temuan yang diungkapkan lembaga tersebut, jaringan kejahatan internasional ini secara spesifik membidik anak muda yang memiliki latar belakang pendidikan formal memadai. Korban yang menjadi sasaran empuk para pelaku meliputi individu dengan tingkat pendidikan mulai dari lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga jenjang sarjana.

Modus operandi yang dijalankan para pelaku umumnya memanfaatkan iming-iming kesejahteraan finansial yang menggiurkan. Mereka menyebarkan tawaran pekerjaan fiktif dengan janji pemberian gaji tinggi guna memikat korban agar bersedia menerima posisi yang ditawarkan tanpa menaruh curiga.

Skala Kejahatan Lintas Negara

Total temuan kasus yang berhasil didata oleh Komnas HAM mencapai angka 7.628 kasus online scam. Karakteristik dari tindak pidana ini melibatkan jaringan sindikat yang beroperasi lintas batas negara, sehingga memperumit aspek penanganan serta perlindungan terhadap Warga Negara Indonesia yang terjebak di luar negeri.

Kondisi ini menempatkan para pencari kerja muda pada situasi rentan terhadap praktik perbudakan siber. Sebagian besar korban baru menyadari bahwa mereka telah terjebak dalam jaringan penipuan setelah tiba di lokasi tujuan kerja dan mendapati kondisi pekerjaan yang jauh berbeda dari janji awal penawaran.

Ancaman Nyata TPPO Modern

Perkembangan modus operandi TPPO melalui sarana digital ini menuntut perhatian serius dari berbagai pemangku kepentingan di dalam negeri. Sifat kejahatan yang memanfaatkan teknologi informasi serta menyasar kelompok terdidik membuktikan bahwa sindikat internasional terus mengubah strategi untuk mencari korban baru di tengah ketatnya persaingan pasar tenaga kerja.

Sumber referensi: Sindikasi news.okezone.com — Baca sumber